Beranda / Uncategorized / The Fall of Caracas: Detik-Detik Runtuhnya Rezim Maduro di Tangan AS

The Fall of Caracas: Detik-Detik Runtuhnya Rezim Maduro di Tangan AS

Presiden Nicolas Maduro resmi ditangkap oleh pasukan khusus AS dalam Operasi Southern Spear.

Oleh Abas Tohar

I. Eksekusi di Miraflores: Kabut Asap di Jantung Kota

Hari ini, sejarah mencatat akhir dari sebuah era. Bukan lagi sekadar gertakan diplomasi, Amerika Serikat melancarkan Operasi Southern Spear. Sejak pukul 02.00 dini hari, rudal AS telah melumpuhkan Caracas.

Presiden Donald Trump telah mengonfirmasi: Nicolas Maduro telah ditangkap. Bersama istrinya, ia diterbangkan keluar dari Venezuela setelah istana Miraflores lumpuh total.

II. Mengapa Caracas Begitu Cepat Jatuh? (Anatomi Pengkhianatan)

Banyak yang mengira Venezuela akan menjadi “Vietnam kedua”, namun yang terjadi justru seperti Panama 1989. Mengapa? Ada tiga keretakan fatal di dalam negeri:

  • Faksi Pragmatis (The Turncoats): Para jenderal yang “membuka pintu” sistem radar demi jaminan keamanan pribadi.
  • Sabotase Intelijen (DGCIM): Pembelotan internal yang membocorkan rute evakuasi Maduro secara real-time.
  • Pemberontakan Perut: Prajurit rendahan yang menolak bertempur karena kelaparan menahun, menyisakan milisi colectivos bertempur sendirian.

III. Kekuatan Laut: USS Gerald R. Ford sebagai Alat Eksekusi

AS membuktikan bahwa angkatan laut adalah alat diplomasi yang paling brutal. Kehadiran kapal induk USS Gerald R. Ford di Karibia memastikan blokade total:

  1. Isolasi digital dan fisik Caracas.
  2. Pemutusan pasokan energi.
  3. Legitimasi narasi “Narco-State” di mata internasional.

IV. Pesan untuk Dunia: Tak Ada Tempat Bagi yang “Netral”

Kejatuhan Caracas adalah pelajaran pahit bagi negara-negara yang mencoba bermain di “dua kaki”.

“Di hadapan moncong meriam, diplomasi ‘mendayung di antara dua karang’ hanya akan membuat pendayungnya karam jika tidak segera menentukan arah kompas.”

Di era baru ini, bersikap netral sering kali dibaca sebagai pembangkangan yang tertunda. Hukum internasional membisu ketika senjata berbicara (Inter arma silent leges).


V. Kesimpulan

Kedaulatan hari ini tampaknya hanya menjadi hiasan panggung di hadapan kekuatan militer yang absolut. The New Monroe telah lahir, dan kedaulatan sebuah bangsa kini ditentukan oleh seberapa dekat mereka dengan arah kompas sang Adidaya.

Salam akal-sehat wal khair wal barakah 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *