Oleh Abas Tohar
Pada zaman ketika suara lebih keras daripada makna, dan narasi sering mengalahkan realitas, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya : pemimpin seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan hari ini?
Quo vadis, leadership?
Bukan pemimpin yang pandai mengutip teori tanpa konteks, bukan pula yang lihai memainkan diksi kosong demi tepuk tangan sesaat. Yang kita perlukan adalah problem-solving leadership kepemimpinan yang less talking, more fixing.
Karena bagi wong cilik, persoalan hidup bukan bahan seminar, melainkan soal perut hari ini dan esok pagi. Harga pangan, akses layanan dasar, pekerjaan yang layak semua itu menuntut keputusan cepat dan tindakan nyata, bukan policy paper yang tebal tapi hampa.
Res ipsa loquitur fakta di lapangan berbicara lebih keras daripada pidato di podium.
MONA, ATNO, dan Parade Pemimpin Retoris
Dalam folklore kepemimpinan kontemporer, kita mengenal beberapa “tokoh abadi”.
Pertama, tante “MONA” (Meeting Only No Action).
Agenda rapatnya rapi, notulennya lengkap, foto dokumentasinya estetik namun hasilnya nihil. Kepemimpinan jenis ini percaya bahwa motion equals progress, padahal kenyataannya hanya busy without impact.
Dalam teori komunikasi organisasi, ini disebut symbolic action without substantive outcome tampak bergerak, tapi tidak berpindah.
Kedua, Om “ATNO” (All Talks No Action)
Retorikanya membius, metaforanya indah, suaranya bergetar penuh emosi. Namun setelah mikrofon dimatikan, publik hanya mendapatkan gema kosong.
Seperti kata pepatah Inggris: Fine words butter no parsnips.
Keduanya adalah contoh kegagalan memahami prinsip dasar komunikasi publik: credibility is built by consistency between words and deeds (ethos precedes logos).
Gatotkaca dan Jarkoni: Dua Saudara dalam Dunia Kepemimpinan
Lalu hadir tokoh legendaris: Gatotkaca—GAgal TOTal KAkean CAngkem.
Ia percaya bahwa semakin banyak bicara, semakin besar kepemimpinan. Padahal, seperti diingatkan dengan getir:
“We talk too much, we love too little, and we hate too much.”
Ini bukan sekadar kritik moral, tetapi juga kritik komunikasi. Dalam perspektif audience-centered communication, kelebihan pesan justru menurunkan daya serap. Message overload kills meaning.
Saudaranya, Pakdhe Jarkoni—Iso uJAR raiso nglaKONI.
Secara teori, ia tidak menggigit. The barking dog seldom bites.
Namun dalam praktik, ia “ngentup”—menusuk pelan lewat inkonsistensi kebijakan dan implementasi setengah hati. Masalahnya bukan niat, tapi execution gap—jurang antara janji dan realisasi.
Narasi, Gagasan, dan Bahaya “Mumet” Massal
Ada pula tipe pemimpin yang sangat percaya pada narasi kebijakan.
Baginya, kebijakan tanpa narasi adalah tubuh tanpa jiwa. Ia menyusun gagasan dengan rapi, teknokratis, well-structured, penuh istilah akademik.
Masalahnya satu: kurang “empan papan”
Dalam teori komunikasi, ini dikenal sebagai kegagalan audience adaptation. Pesan yang baik bukan hanya benar secara substansi, tetapi juga relevan dan dapat dipahami oleh audiens yang beragam.
Clarity is not simplification; it is respect.
Pemimpin yang lupa ini akan menciptakan kebijakan yang sound on paper, confusing on the street. Akibatnya bukan partisipasi, melainkan kelelahan kognitif kolektif, public “mumet” syndrome.
Kepemimpinan yang Kita Perlukan: Tegas, Sederhana, Membumi
Pemimpin masa kini harus mampu memadukan tiga hal:
- Action-oriented leadership – cepat membaca masalah dan berani mengambil keputusan
- Narrative intelligence – mampu membingkai kebijakan dalam bahasa yang membumi dan bermakna
- Moral clarity – keberpihakan yang jelas pada kepentingan publik, bukan pada citra diri.
Dalam istilah Latin: Non multa, sed multum—bukan banyak bicara, tapi bermakna.
Epilog Moral: Kepemimpinan Diuji Saat Tanah Retak dan Air Meluap
Dalam konteks bencana alam di Sumatera, kepemimpinan tidak sedang diuji di ruang konferensi ber-AC, melainkan di tanah yang retak, di rumah yang hanyut, dan di dapur rakyat yang mendadak tak berasap.
Di situ, yang dibutuhkan bukan narasi panjang, melainkan kehadiran nyata dengan kerja full swing—cepat, tegas, dan tanpa banyak alasan.
Bencana bukan panggung untuk blame games atau scapegoating kebijakan rezim masa lalu. Alam tidak peduli siapa yang dulu berkuasa; banjir tidak membaca arsip kebijakan.
Dalam prinsip dasar political accountability, rezim yang sedang memegang kendali adalah rezim yang memikul tanggung jawab. Actus non facit reum nisi mens sit rea namun kelambanan tetaplah kelalaian, dan kelalaian di tengah krisis adalah dosa publik.
Justru di saat krisis, bencana, atau pandemi, kualitas seorang pemimpin tersingkap tanpa kosmetik.
Kebodohan kepemimpinan akan tampak bukan karena ia tak punya kata-kata, melainkan karena ia salah memilih prioritas: sibuk mencari kambing hitam saat rakyat sedang mencari selimut.
Sejarah selalu mencatat dengan kejam: pemimpin sejati turun ke lumpur, sementara pemimpin gadungan sibuk membersihkan sepatu lalu menunjuk siapa yang harus disalahkan.
In times of crisis, leadership is not about being right in speech, but being useful in action.
Pada akhirnya, rakyat tidak menuntut pemimpin yang sempurna, melainkan pemimpin yang tidak menambah penderitaan dengan kebingungan yang disengaja.
Dalam krisis, kebingungan bukan nasib ia adalah pilihan. Selebihnya “gitu aja kok repot.”
Stay critical and think wisely 🙏

