Beranda / Technology / Buzzer, Hoaks, dan AI: Sebuah Kritik Akademik atas Ekologi Informasi Post-Truth di Indonesia

Buzzer, Hoaks, dan AI: Sebuah Kritik Akademik atas Ekologi Informasi Post-Truth di Indonesia

Oleh Abas Tohar

Abstrak

Tulisan ini menganalisis fenomena hoaks, buzzer, dan kecerdasan artifisial dalam konteks ekologi informasi Indonesia kontemporer. Menggunakan pendekatan teori komunikasi klasik dan modern mulai dari agenda setting, spiral of silence, manufacturing consent, hingga media ecology artikel ini menunjukkan bagaimana ketiganya membentuk struktur realitas baru yang bersifat manipulatif, hiperreal, dan sering kali menggantikan fakta empiris dengan konstruksi persepsi. Dengan gaya retoris satir, tulisan ini menanggapi artikel Renville Almatsier (2025) dan memperluas tafsir terhadap krisis kepercayaan publik yang sedang berlangsung.

I. Pendahuluan: Post-Truth sebagai Rumah Baru Politik Indonesia

Kita hidup dalam apa yang oleh Ralph Keyes disebut sebagai post-truth era: masa di mana kebenaran faktual bukan lagi faktor penentu opini publik.

Fakta bernegosiasi dengan emosi, data berduel dengan narasi, dan opini sering menang karena tampil lebih “lezat” dikonsumsi.

Di Indonesia, kondisi ini diperburuk oleh kehadiran tiga aktor :

  1. Hoaks sebagai produk,
  2. Buzzer sebagai distributor,
  3. AI sebagai mesin penggandanya.

Ketiganya menciptakan trinitas digital yang bukan hanya mengaburkan batas antara fakta dan fiksi, tetapi juga meredefinisi bagaimana publik memahami realitas politik dan sosial.

II. Buzzer sebagai “Nabi Palsu”: Analisis melalui Teori Agenda Setting

Teori Agenda Setting (McCombs & Shaw, 1972) menegaskan bahwa media tidak menentukan apa yang harus kita pikirkan, melainkan menentukan topik apa yang masuk ke kepala kita. Di era digital, fungsi itu kini dibajak oleh para buzzer.

Mereka adalah agenda-setters bayaran, yang menetapkan prioritas isu sesuai kepentingan aktor politik atau ekonomi. Tidak lagi melalui newsroom, melainkan melalui dashboard dan boosted engagement.

Karakteristik Buzzer dalam Perspektif Komunikasi Politik

  1. Orkestrasi naratif: penggunaan akun-akun pseudonim untuk menciptakan ilusi dukungan masif.
  2. Framing instrumental: menggiring persepsi publik melalui sudut pandang yang menguntungkan klien.
  3. Normalisasi propaganda:menjadikan disinformasi sebagai praktik wajar dalam persaingan politik.

Dalam kerangka satir, buzzer menjadi pendeta digital yang mengkhotbahkan “wahyu pesanan”—bukan kebenaran, melainkan kebutuhan pasar.

III. Hoaks dan Spiral Pembungkaman: Dari Spiral of Silence ke Spiral of Noise

Teori Spiral of Silence (Elisabeth Noelle -Neumann, 1974) menjelaskan bagaimana individu cenderung diam ketika opininya berbeda dari suara dominan.

Namun dalam era hoaks, kita justru memasuki Spiral of Noise: suara-suara palsu membanjiri ruang publik hingga suara rasional tenggelam. Dominasi bukan lagi milik mayoritas, tetapi milik mereka yang paling keras—atau paling banyak akunnya.

Hoaks bekerja melalui tiga mekanisme psikologis:

  1. Confirmation bias
  2. Emotional contagion
  3. Illusory truth effect

Kombinasinya menciptakan masyarakat yang kesulitan membedakan antara informasi yang benar dan informasi yang terdengar benar.

IV. AI dan Hiperrealitas: Baudrillard Bertemu Photoshop

Fenomena deepfake, synthetic media, dan manipulasi visual dapat dibaca melalui teori Hiperrealitas(Jean Baudrillard). Dalam dunia hiperreal: yang palsu tidak hanya meniru yang asli—ia menggantikan yang asli.

Seorang dokter dapat muncul menjual obat palsu. Seorang mantan menteri bisa dipaksa “berpendapat” tanpa pernah berbicara. Skor sepakbola bisa berubah sebelum kick-off.

AI bukan lagi sekadar alat; ia menjadi alkemis baru: mengubah ilusi menjadi realitas yang dipercayai publik.

V. Propaganda Modern: Dari “Manufacturing Consent” ke “Manufacturing Confusion”

Noam Chomsky (1988) mengkaji bagaimana media memproduksi konsensus bagi kekuasaan. Namun dalam konteks buzzer, yang diproduksi bukan lagi consent, tetapi confusion.

Ketika publik bingung membedakan mana fakta dan fiksi, kekuasaan mendapatkan carte blanche untuk mendefinisikan kebenaran sesuai kehendaknya.

Hoaks bukan lagi sekadar kebohongan. Ia adalah strategi politik.

Buzzer bukan lagi sekadar penggiring opini.
Mereka adalah arsitek realitas substitusi.

VI. Ekologi Media: McLuhan dan Peradaban yang Ditenggelamkan Algoritma

Marshall McLuhan menyatakan bahwa media adalah extensions of man.Namun dalam ekologi digital, media menjadi invasions of mind.

Algoritma mengatur apa yang muncul di layar kita, membentuk filter bubble (Pariser, 2011) yang mempersempit dunia, sambil meyakinkan kita bahwa itulah dunia yang sesungguhnya.

Buzzer bekerja di dalam ekosistem ini, memanfaatkan:

  • echo chambers
  • algoritma viralitas
  • logika platform (Gillespie, 2018)

Sehingga sebuah kebohongan kecil dapat tumbuh menjadi “kebenaran alternatif” yang dipercaya jutaan orang.

VII. Jurus Anti Baper: Resistensi Psikologis sebagai Literasi Media

Dalam kondisi seperti ini, kedewasaan digital menjadi prasyarat bertahan hidup.

Ketika nyinyiran dan manipulasi datang bertubi-tubi, salah satu strategi resistensi publik adalah apa yang dapat disebut sebagai digital affect regulation: tidak terjebak dalam “pertarungan emosi” yang menjadi bahan bakar buzzer.

Dalam bahasa sehari-hari: kadang like adalah strategi paling subversif untuk melumpuhkan serangan. Kadang ketenangan adalah bentuk perlawanan paling radikal.

VIII. Regulator dan Ilusi Gatekeeping

Dalam era sebelum media sosial, gatekeeping theory (Lewin, 1947), memastikan bahwa informasi melewati filter verifikasi. Kini gerbang itu roboh.

Komdigi, Dewan Pers, dan lembaga pengawas lainnya menghadapi masalah klasik yang oleh McQuail disebut sebagai regulatory lag: teknologi berkembang lebih cepat daripada hukum.

Akibatnya, publik dibiarkan hidup dalam ekosistem informasi yang tidak sepenuhnya dapat diawasi, apalagi dikendalikan.

IX. Penutup: Litani Kebenaran yang Makin Redup

Masyarakat digital kita bergerak menuju era di mana kebenaran bukan hanya diperdebatkan, tetapi diproduksi secara massal, dipasarkan, dan dipaketkan seperti komoditas.

Di negeri ini, sering kali:
langit runtuh duluan—sementara keadilannya masih dalam perjalanan dinas menuju ruang rapat dulu.

Namun harapan belum hilang. Selama publik belajar membaca dunia dengan lensa kritis, dan tidak menyerahkan kesadarannya sepenuhnya pada algoritma, kebenaran mungkin masih punya kesempatan untuk berbicara—meski suaranya pelan, dan kanalnya tidak di- boost.

Salam akal-sehat wal khair wal barakah 🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *